News

Genggong Alat Musik Dengan Bunyi Yang Unik Khas Desa Batuan, Dipentaskan Setiap Hari Selama Event Sahasra Warsa Batuan

Selasa, 27 Dec 2022

Genggong merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Bali. Alat musik ini merupakan salah satu instrumen getar yang sangat unik, sebab suara yang ditimbulkannya seperti memberi kesan mirip seperti suara katak sawah yang bersahut-sahutan ketika di malam hari. Keunikannya lainnya yang ada di alat musik ini adalah memanfaatkan rongga mulut orang yang membunyikannya sebagai resonator. 

Instrument genggong dipentaskan setiap hari selama event Sahasra Warsa Batuan, di Desa Batuan Kecamatan Sukawati, Gianyar. Alat musik Genggong ini merupakan alat musik tradisional yang semakin jarang dikenal orang. Selain itu alat musik ini juga sering dimainkan di acara-acara hiburan, seperti di dalam acara perkawinan maupun di dalam pertunjukan seni tari.

Dalam perkembangannya, alat musik Genggong ini sudah sangat langka dan semakin jarang dikenal orang. Namun di Desa yang telah memiliki tradisi Genggong yang kuat, yaitu di Desa Batuan (Gianyar) alat musik Genggong masih sering dimainkan sebagai pengiring tarian tradisional, yaitu tari Kodok dan hanya sajian music instrumental.

Videographer : Windu Swastika

video terkait

Lomba Balaganjur Pesta Kesenian Bali - PKB XLIV 2022 - Duta Kabupaten Klungkung, Sanggar Seni Baswaram

Komposer : I Wayan Situbanda, S.snKoreografer : Anak Agung Dalem Segara Putra, S.snKonseptor : Drs. I Dewa Gede Alit SaputraKoordinator : Putu Bayu Priyanka Labha, S.HBalaganjur Kabupaten Klungkung "BULAK BANGSING"Menampa misteri tak kasat mata. Mengantar peradaban manusia agar tetap percaya, adalah keniscayaan rasa yang mesti dikedepankan. Lalu bersimpuh di altar maya stana Ida Ratu Nyoman, kemudian melahirkan Bulak Bangsing. Bulak Bangsing, tidak semata berkutat pada perpaduan dua kata untuk ketemu makna. Sejatinya ia adalah inspirasi semesta atas srada anak manusia, sebagai pemantik lahirnya fibrasi energi melodi, yang terangkai dalam kemasan gending baleganjur berjudul “Bulak Bangsing”. Bulak berarti genangan mata air Bangsing, selain berarti juntaian akar yang keluar dari ranting pohon, juga merujuk kepada kemuliaan kesucian bagian Dasaksara, Bang dan Sing. Bang adalah pamurtian tirta kamandalu sebagai air kehidupan, dan sing adalah hati manusia yang punya rasa. Eksplorasi rasa untuk selalu memuliakan anugrah air kehidupan inilah kemudian tertuang dan diterjemahkan dalam gending baleganjur, yang sarat dengan aura angker sesuai karakter pelinggih Ida Ratu Nyoman diatas sebuah bulakan mata air beratap juntaian bangsing. Ketika kesunyian menyelinap, menyembul suara air dalam riak kecil, tersapuh pawana mengusik dahan seolah ciptakan percakapan alam . Sejenak tenang kemudian merayap menjadi blabur bandang, tergantung seberapa pekanya manusia mensykuri sebuah anugrah. Semuanya tercermin lewat teknik permainan alat yang sengaja ditata, sebagai representasi nyata situasi bulak bangsing diarea pelinggih Ida Ratu Nyoman. Selain harmoni gemuruh permainan kendang dan cengceng, perpaduan olah vokal penabuh yang mengisyaratkan ajakan untuk selalu memuliakan air juga kental dalam gending ini. Ditambah pola-pola eksperimen olah suara pada riong dengan cara yang tidak biasa, semakin menguatkan cipta karsa dan getaran pembaruan atas sebuah keberanian mengungkap rasa. Sekaligus rasa hormat dan bhakti terhadap anugrah air kehidupan, yang dinyatakan melalui gending Baleganjur. Seperti tersirat dalam kutipan lontar Purwa Bhumi Kamulan :Manira anugraha ri kita bumi kamulanAngriptaning wresti udan uriping parajanaTumerusing lwah tan pegatanBhisamanku maka titahing HyangArtinya :Aku telah menganurahkan awal adanya bumiMenciptakan hujan untuk kehidupan manusiaBegitu juga aliran sungai tak pernah berhentiItulah keputusanku sebagai sang pencipta#pestakesenianbali #PKBXLIV #PKB2022 #Balaganjur #Baleganjur #LombaBalaganjur #LombaBaleganjur #Tabuh #TabuhKreasi #KarawitanBali